Senin, 19 November 2018 | 17:03 WIB

Menperin: Jangan Tanggung-tanggung Bisnis Otomotif di Indonesia

Kapasitas mesin yang semakin kecil, tapi bertenaga besar adalah tren terkini industri otomotif. Kecenderungan ini disebut dengan downsizing.

Menteri Perindustrian Saleh Husin optimistis Indonesia mampu menjadi basis produksi industri otomotif dunia. Bukan hanya sebagai negara tujuan pemasaran, produksi mobil dan sepeda motor nasional juga diyakini akan mampu unjuk gigi di pasar ekspor.

Untuk merealisasikan hal tersebut, Saleh mengatakan, produsen otomotif jangan hanya berinvestasi pada pabrik perakitan. Perusahaan-perusahaan otomotif tersebut harus membangun pabrik mesin dan komponennya di Indonesia.

"Kita terus terang bilang jangan tanggung-tanggung berbisnis otomotif di Indonesia. Pemerintah sudah serius, jangan sampai momentum baik ini dilewati mereka dan justru diambil kompetitor," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (9/4/2016).

 

Untuk bisa bersaing, lanjut Saleh, produsen otomotif harus melakukan identifikasi lapangan secara lebih akurat terhadap selera pasar domestik maupun global yang semakin kritis. Terutama pada aspek kualitas, harga, dan pelayanan purna jual.

Dia menyatakan, saat ini investasi sektor otomotif terus mengalir ke dalam negeri seiring perbaikan iklim berusaha dan penanaman modal. Sejumlah nama besar di industri otomotif seperti Toyota, Isuzu dan Mitsubishi pun telah meningkatkan investasinya di Indonesia.

"Toyota sudah membangun pabrik mesin, Isuzu dan Mitsubishi juga menyuntikkan terus modal untuk menambah produksi. Juga pemain besar otomotif asal China, Wuling sedang membangun pabrik Rp 10 triliun-Rp 11 triliun di Karawang. Artinya, jika masih ada yang hanya menjual mobil tanpa punya orientasi bangun pabrik, ya siap-siap disalip oleh pabrikan yang lebih agresif," jelas dia.

Lebih lanjut, Saleh memaparkan, pemerintah telah menetapkan industri otomotif sebagai salah
satu industri prioritas. Untuk itu, pemerintah melakukan berbagai upaya strategis terutama untuk menarik investasi baru dan mendorong peningkatan kapasitas produksi.

Upaya yang dilakukan antara lain memperkuat struktur industri otomotif melalui peningkatan kemampuan industri komponen dan infrastruktur teknologi, peningkatan daya saing industri otomotif melalui peningkatan kemampuan SDM dan manajemen industri, serta peningkatan penguasaan teknologi dan research and development (R&D) industri otomotif.

Sebagai informasi, berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Perindustrian, penjualan kendaraan bermotor roda empat mencapai 1,1 juta unit pada 2015. Angka penjualan ini akan terus tumbuh seiring peningkatan ekonomi nasional.

Sementara itu, sebagai industri yang memberikan efek ganda cukup besar terhadap kegiatan sektor ekonomi lainnya, industri otomotif telah
berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja sebanyak 1,5 juta orang.

Jumlah itu terdistribusi pada berbagai sektor mulai dari industri perakitan, industri komponen lapis pertama, kedua dan ketiga, sampai di tingkat bengkel resmi sales, service dan spare parts.

Berita Terkait
Sumber : liputan6.com
Editor : editor
Dibaca 216 | 0 Komentar
Silahkan Masuk atau Daftar untuk mengirim komentar
KOMENTAR
Ada 0 Komentar untuk Artikel ini Urutkan Berdasarkan: